Upacara adat Jawa, Pelaksanaan Ruwatan

admin September 12, 2012 0


Upacara Ruwatan dilakukan untuk “mengundang” Bathara Kala dalam sebuah pagelaran. Menurut kepercayaan, orang yang telah melalui proses ini dianggap telah diruwat dan telah terbebas dari kesialan mulai saat itu hingga di kemudian hari. Namun sebelum melakukan ruwatan, ada beberapa hal yang menjadi syarat dan harus dilakukan. Syarat ini harus terpenuhi dulu sebelum pagelaran wayang dilakukan. Dibawah ini adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam Ruwatan Murwakala:

Pelaksanaan Ruwatan adat jawa

  1. Sukerto, yakni orang yang akan diruwat harus menggunakan pakaian yang serba putih. Warna putih melambangkan kesucian dan kebersihan diri.

  2. Orang tua Sukerto harus memakai pakaian adat Jawa.
  3. Adanya seorang dalang yang dianggap mampu melakukan ruwatan dan sudah siap dengan peralatan untuk mementaskan lakon Murwakala. Peralatan ini seperti panggung, seperangkat wayang dan gamelan, penabuh, sinden dan lain sebagainya.
  4. Tempat untuk melakukan ruwatan hendaknya cukup luas, mampu menampung tempat duduk bagi Sukerto dan orang tua.
  5. Dipersiapkan tempat memandikan para Sukerto dan juga adanya sesaji yang disiapkan sebelumnya.

Pertama-tama, Sukerto akan diantarkan oleh orang tua masing-masing dan diserahkan kepada dalang. Para Sukerto nantinya harus duduk di belakang kelir (layar) wayang dan harus memperhatikan berlangsungnya pementasan, termasuk memperhatikan segala macam do’a yang diucapkan oleh dalang. Jika semua sudah pada tempatnya dan siap, Dalang akan mengambil tempat dan memulai pagelaran wayang dengan lakon Murwakala.

Cerita Murwakala dimulai dengan keresahan para dewa di Jonggring Saloka (kahyangan) yang diakibatkan oleh Bathara Kala yang memangsa manusia di bumi. Bathara Guru sebagai ayah dari Bathara Kala merasa risau dan mengajak Bathara Narada untuk menyelesaikan masalah ini. Akhirnya Bathara Kala disuruh menghadap. Setelah terjadi silang pendapat, akhirnya Bathara Kala mengakui kekuasaan sang ayah namun ia tetap lapar. Bathara Guru membolehkan Bathara Kala memangsa para Sukeryti dengan syarat tidak boleh yang memiliki mantra Kalacakra di dadanya dan mantra Sastra Balik di kepalanya.

Bathara Kala merasa kebingungan dengan apa itu Sukerto dan mendapaykan penjelasan dari ibunya, Bathari Uma atau Bathari Durga. Sukerto adalah orang yang dilihat berdasarkan waktu kelahirannya atau syarat-syarat yang kami sebutkan dalam artikel ruwatan sebelumnya. Bisa juga Sukerto adalah orang yang melakukan kesalahan karena melanggar tabu atau larangan. Cerita ini kemudian meloncat di satu pedesaan di muka bumi. Warga desa yang resah akan ulah Bathara Guru sepakat menggunakan jasa Ki Dalang Kandhabuwana yang tak lain adalah jelmaan dari Bathara Guru yang ingin melindungi manusia dari ulah Bathara Kala. Ia menjelma menjadi manusia bersama Bathara Narada dan Bethari Durga setelah sebelumnya melakukan konsulasi dengan Semar. Semar sendiri sebenarnya adalah kakak dari Bathara Guru yang menjelma sebagai Pamong di bumi.

Selanjutnya terjadi perundingan warga desa dengan Kandhabuwana. Para Sukerto harus bersedia menjadi anak Kandhabuwana supaya terhindar dari ulah Bathara Kala. Setelah itu dalang akan mengucapkan doa yang harus diamini oleh orang tua dan sukerto serta penonton pagelaran wayang. Doa itu adalah mantra Sastra Balik yakni mengucapkan aksara Jawa dengan terbalik. Selain itu ada juga mantra Kalacakra yang bunyinya seperti ini: Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya; Yamidosa-Sadomiya; Yadayuda-Dayudaya; Yasiyaca- Cayasiya; Yasihama- Mahasiya. Yang memiliki arti sebagai berikut: “Siapapun yang menimbulkan keributan, hilang kekuatannya. Siapa yang datang untuk membuat celaka, hilang dayanya. Siapa yang membuat kelaparan, mulai sekarang harus memberi banyak makanan. Siapa yang membikin kemelaratan , harus membangun kemakmuran. Siapa yang berbuat dosa , wajib menghentikan nafsu jahatnya. Siapa yang mengobarkan perang, pasti sirna kekuatannya. Siapa yang berkhianat dan kejam, harus berbuat welas asih. Siapa yang suka merongrong, menjadi parasit, harus merobah sikap dengan menghormat dan kasih kepada sesama.”

Selain itu Kandhabuwana juga menganjurkan adanya sesaji sebagai wujud terima kasih kepada Gusti Sang Maha Pencipta. Bathara Kala tetap datang menyerang namun akhirnya dapat ditakhlukkan oleh Kandhabuwana, sedangkan anak buah Bathara Kala ditakhlukkan oleh Bima atau Werkudara, ayah dari Gatotkaca. Setelah kalah, Bathara Kala diberitahu nama asli Sukerto dan dia tidak boleh memakannya, termasuk kenapa sebabnya. Bathara Kala menyanggupi hal ini dan diberi hukuman setimpal.

Setelah itu upacara berlanjut dengan pemotongan rambut dan memandikan Sukerto. Wayang yang memerankan Sukerto juga dicelupkan kedalam air. Dalang lalu mengatakan bahwa Sukerto telah hilang seiring dengan air yang digunakan untuk memandikannya. Lalu pagelaran wayang dilanjut kembali dengan menambahkan cerita Kandhabuwana yang berubah wujud menjadi Bathara Guru. Setelah memberikan wejangan dan pamit kepada warga desa dan Semar kakaknya, ia kembali ke Jonggring Saloka bersama Bathara Narada dan Bathari Durga. Dengan selesainya pagelaran wayang ini, maka selesai sudah acara ruwatan tersebut dan orang yang diruwat sudah tidak menjadi Sukerto lagi. (iwan)

 

Leave A Response »