Sejarah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Dari Minangkabau

admin June 23, 2012 1


Di awal abad ke-19 kondisi masyarakat Minangkabau mengalami perubahan setelah banyak warga Minangkabau kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Kedatangan para haji tersebut membawa pandangan baru bagi masyarakat Minangkabau yang masih memegang teguh adat dan kebiasaan lama. Adat lama yang berlaku di Minangkabau adalah minum-minuman keras, menyabung ayam dan berjudi.

Sejarah Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Minangkabau

Kaum Padri Melawan Kaum Adat

Para haji melihat bahwa tindakan masyarakat Minangkabau telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Oleh karena itu, mereka hendak membersihkan penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam yang ada di masyarakat Minangkabau dengan cara mengikuti ajaran Islam. Golongan yang ingin menjalankan aturan agama Islam di Minangkabau disebut Kaum Padri.

Di lain pihak, Kaum Adat masih berpegang atas kebiasaan lama dan menentang usaha pembaruan yang dilakukan oleh Kaum Padri. Dengan demikian, lahirlah dua kelompok masyarakat Minangkabau dan menimbulkan pertentangan. Adanya dua pandangan yang berbeda tersebut menimbulkan ketegangan yang akhirnya meningkat menjadi bentrokan senjata. Walau sama-sama berdarah Minangkabau, pandangan yang berbeda menyebabkan pertikaian darah.

Belanda Mendukung Kaum Adat

Pertentangan semakin meningkat di daerah Bonjol sehingga Kaum Adat terdesak oleh Kaum Padri. Perlawanan Kaum Padri tersebut dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Pertentangan kedua golongan masyarakat di Minangkabau berubah setelah datangnya campur tangan dari pihak ketiga. Pihak lain yang masuk dalam konflik tersebut adalah Inggris yang dipimpin oleh Raffles dan Belanda yang menerima kembali kekuasaannya dari tangan Inggris.

Keterlibatan pihak ketiga ini sangat ditentang oleh Kaum Padri. Mereka merasa terjajah oleh bangsa asing di tanah Minangkabau. Sementara itu, Kaum Adat meminta bantuan dari pihak penguasa asing untuk melawan Kaum Padri di Minangkabau. Dengan adanya campur tangan penguasa asing tersebut, Kaum Padri tidak hanya berhadapan dengan Kaum Adat tetapi berhadapan juga berlawanan dengan penguasa asing, yaitu Belanda, yang hendak menanamkan kekuasaannya di Minangkabau.

Kebencian Kaum Padri terhadap Belanda diwujudkan dengan penyerbuan pos Belanda yang dimulai pada tahun 1821. Perlawanan tersebut dilakukan dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan Kaum Padri di daerah Boneo, Agam, Bonjol dan beberapa tempat lainnya. Pertempuran Kaum Padri melawan pasukan Belanda tersebut berjalan cukup lama, yaitu sampai dengan tahun 1825.

Konsentrasi Belanda Terpecah

Bersamaan dengan berlangsungnya pertempuran di Minangkabau, Belanda juga sedang menghadapi perlawanan pasukan Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa. Akibatnya adalah pasukan Belanda di Minangkabau banyak yang ditarik ke Pulau Jawa. Akibat kekurangan pasukan di Minangkabau, Belanda menggunakan taktik damai untuk meredam perlawanan Kaum Padri. Perdamaian tersebut tidak berlangsung lama karena Belanda sering menekan rakyat Minangkabau.

Perdamaian yang gagal menghasilkan perlawanan hebat dari Kaum Padri dan banyak menelan korban dari kedua belah pihak. Setelah Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, Belanda kembali mengerahkan pasukannya secara besar-besaran untuk menyerang Kaum Padri. Penyerangan pasukan Belanda dibantu oleh pasukan yang baru pulang dari Pulau Jawa untuk menyerbu benteng pertahanan kaum Padri.

Tuanku Imam Bonjol Ditahan

Pertempuran sengit berkobar pada tahun 1833 dan akhirnya melemahkan kekuatan Kaum Padri yang bermarkas di Tanjung Alam. Pemimpin Padri lainnya seperti Tuanku Nan Cerdik bahkan menyerahkan diri ke pihak Belanda. Sejak saat itu, Tuanku Imam Bonjol memimpin perlawanan rakyat Minangkabau seorang diri. Kegigihan Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin perlawanan menyebabkan Belanda harus menambahkan pasukan gabungan orang Afrika, Eropa dan pribumi.

Setelah mengalami tekanan-tekanan berat dari pihak musuh, Tuanku Imam Bonjol mengadakan perundingan damai dengan Belanda pada tahun 1837. Perundingan ini digunakan oleh Belanda untuk melihat kekuatan Kaum Padri yang ada di Benteng Bonjol dan Tuanku Imam Bonjol diharapkan agar rela menyerahkan diri. Perundingan tersebut gagal tercapai karena pihak Belanda telah melakukan persiapan untuk mengepung benteng tersebut.

Akhirnya, pertempuran pun meledak sehingga benteng Kaum Padri dikuasai oleh Belanda. Tuanku Imam Bonjol ditahan pada tanggal 25 Oktober 1837. Dengan ditangkapnya Imam Bonjol bukan berarti perlawanan rakyat Minangkabau terhenti sampai disitu. Perjuangan masyarakat Minangkabau terus berlangsung walaupun dalam skala kecil, seperti halnya pergerakan rakyat yang dipimpin oleh Tuanku Tambusi.

Referensi:

http://www.sarkub.com/2012/tuanku-imam-bonjol-bukan-wahabi/

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuanku_Imam_Bonjol

 

One Comment »

  1. syolahuddin April 26, 2013 at 1:53 am -

    Sudah Seharusnya Para Keluarga Dari Pahlawan Kita Harus Diperhatikan Oleh Pemerintah

Leave A Response »