Sejarah kerajaan Sriwijaya

admin September 17, 2012 Comments Off


sejarah kerajaan Sriwijaya

Sejarah kerajaan Sriwijayaberkaitan erat dengan sejarah peradaban Nusantara. Sriwijaya merupakan salah satu dari kerajaan besar yang ada di Nusantara di masa lalu. Sriwijaya memiliki kekuasaan yang luas. Kerajaan ini berpusat di sekitar wilayah Sumatera Selatan, namun memiliki daerah pemerintahan yang membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatra, Jawa hingga pesisir Kalimantan.

Sriwijaya berasal dari dua kata, yakni Sri dan Wijaya. Sri dalam bahasa sansakerta artinya “bercahaya” atau “gemilang” dan Wijaya artinya “kemenangan” atau “kejayaan”. Jika kedua kata ini digabungkan, maka bisa diartikan sebagai kemenangan yang gilang gemilang atau kemenangan yang luar biasa. Keberadaan kerajaan Sriwijaya ini tercatat oleh seorang pendeta Tiongkok yang bernama I Tsing. Pendeta ini mengunjungi Sriwijaya pada abad ke-7 dan menulis apa saja tentang Sriwijaya. Raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang berkuasa pada tahun 671 hingga 702 masehi. Berdasarkan prasasti sebagai bukti sejarah, raja Jayanasa mendirikan kerajaan Sriwijaya setelah melakukan penakhlukan ke daerah Jambi, Palembang, Lampung, Bangka dan Jawa.

Besar kemungkinan bahwa keruntuhan kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat disebabkan oleh penaklukan kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit, dimana ini adalah salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya, raja Sri Jayanasa melakukan perjalanan dari Minanga Tamwan dengan membawa kekuatan 20.000 tentara. Beberapa ahli masih memperdebatkan dimana persisnya pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Selain itu pula ada kemungkinan kerajaan ini memindahkan pusat pemerintahan.

Mengisahkan kerajaan Sriwijaya secara kronologis memang tidak mudah dikarenakan minimnya catatan mengenai hal tersebut. Oleh karena itu para ahli masih mencari bukti peninggalan dan masih terjadi beberapa perdebatan mengenai beberapa hal yang ada. Namun dari beberapa literatur yang berkaitan dengan kerajaan Sriwijaya, sudah jelas bahwa kerajaan ini berkembang dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di selat Malaka, selat Sunda, laut Cina selatan, laut Jawa dan selat Karimata. Rantai-rantai perdagangan dikuasai oleh Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan besar. Ekspansi Sriwijaya ke Jawa dan semenanjung Malaya telah menjadikan kerajaan ini pusat kontrol dari dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara.

Pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 792 hingga 835 masehi, penguasaan Sriwijaya di tanah Jawa diperkuat. Pada masa inilah candi Borobudur yang saat ini disebut sebagai warisan budaya dunia dibangun. Kerajaan Sriwijaya memang kerajaan Budha yang menjadi pusat pengajaran Budha Vajrayana. Banyak peziarah dan sarjana dari berbagai negara Asia berkunjung ke Sriwijaya, salah satunya pendeta I Tsing dari Tiongkok yang menulis bahwa Sriwijaya adalah rumah bagi sarjana Budha.

Pada waktu itu ada sekitar 1000 orang pendeta belajar agama Budha pada seorang pendeta Sriwijaya yang terkenal bernama Sakyakirti. Kerajaan Pala di Benggala memiliki hubungan dekat dengan kerajaan Sriwijaya. Pada masa pemerintahan Balaputradewa pada tahun 856 hingga 861 masehi, kerajaan Sriwijaya mendedikasikan sebuah biara Budha kepada Universitas Nalanda. Seperti diketahui, Sriwijaya merupakan kerajaan maritim, dimana kerajaan mengandalkan hegemoni pada kekuatan armada laut dalam menguasai jalur pelayaran, perdaganan dan penguasaan berbagai kawasan strategis sebagai pangkalan armada laut untuk mengawasi dan melindungi kapal dagang.

Ada beberapa periode yang masih menjadi misteri, terutama periode tahun 1089-1177 yang merupakan akhir kekuasaan Sriwijaya. Belum diketahui secara pasti penyebab meredupnya kerajaan Sriwijaya secara utuh. Hanya diperkirakan bahwa kerajaan Sriwijaya melemah dikarenakan banyaknya peperangan yang disebabkan pemberontakan raja-raja di bawah kekuasaannya. Pada tahun 1183, kerajaan ini berada dibawah kekuasaan kerajaan lain, yakni Dharmasraya dan setelah itu hilang. Keberadaan kerajaan ini baru diketahui lewat publikasi sejarawan Perancis George Cœdès dengan bukunya École française d’Extrême-Orient. (iwan)

 

Comments are closed.