Sejarah Gerakan Emansipasi Wanita Oleh RA Kartini

admin April 17, 2012 0



Sejarah Gerakan Emansipasi Wanita Oleh RA Kartini

Gerakan emansipasi wanita di Indonesia tidak terlepas dari peranan Raden Ajeng (RA) Kartini dan para pejuang wanita lainnya. Sejalan dengan bertambah banyaknya jumlah pelajar di sekolah Barat, dan peradaban dunia Barat yang lengkap dengan sistem politik, sosial, dan ekonominya pun mulai lebih dikenal. Posisi sosial Belanda yang sangat terpandang pada masa kolonialisme Belanda di mata bangsa pribumi menyebabkan timbulnya aspirasi-aspirasi untuk mengadakan inovasi menurut model Barat umumnya, dan Belanda khususnya.

Akhirnya persepsi mereka terbuka, tidak hanya dalam perbedaan-perbedaan tingkat dan gaya hidup pribumi dengan Belanda dan Eropa saja, melainkan juga mengenai keterbelakangan dan kolotnya kehidupan tradisional masyarakat Indonesia saat itu. Mereka mulai sadar akan perbedaan kualitas hidup antara gaya Barat yang serba bebas dengan pola kehidupan tradisional yang penuh dengan keterikatan.

Tradisi mulai dipandang bukan sebagai sesuatu yang wajar lagi dan harus dijunjung tinggi, melainkan sebagai hambatan menuju kemajuan. Lambat laun kesadaran pun tumbuh untuk mencapai kemajuan, yang memerlukan liberalisasi dari belenggu adat-istiadat kuno. Salah satu gerakan emansipasi ini dikumandangkan oleh RA Kartini melalui tulisan-tulisannya yang kemudian diterbitkan menjadi buku Habis Gelas Terbitlah Terang pada tahun 1911.

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang

Wikipedia menuliskan bahwa dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang diungkapkan bagaimana kehidupan keluarga bupati yang masih digariskan menurut tradisi, kedudukan orang tua terhadap putera-puteranya. Selain itu juga dicantumkan ketaatan dan kepatuhan pada adat, termasuk kaidah-kaidah tata susila, sopan santun serta tata cara yang mengatur segala macam hubungan sosial, baik di lingkungan keluarga maupun di luarnya yang tidak dapat diganggu gugat lagi.

Sejarah Gerakan Emansipasi Wanita Oleh RA Kartini

Tulisan RA Kartini dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang justru mempertanyakan, mempersoalkan, dan menyangsikan segala sesuatu yang berasal dari tradisi. Kondisi tersebut seperti yang dialaminya sendiri dalam kehidupannya di lingkungan bangsawan Kabupaten Jepara. RA Kartini diharuskan menerima semua aturan adat-istiadat dengan penuh rasa khidmat yang disertai rasa tanggungjawab untuk melestarikannya

Kesempatannya bersekolah dan bergaul dengan anak-anak Belanda membuka mata dan membangkitkan kesadarannya akan dunia luar serta nilai-nilai dan gaya hidupnya yang berbeda dari apa yang dihayatinya. Timbullah kejutan kebudayaan baginya, yaitu kesadaran akan situasi yang serba terbelakang dari kedudukan rendah wanita.

Cita-cita RA Kartini menjadi guru tidak lain berasal dari aspirasinya untuk memajukan bangsa sehingga lahirlah ide emansipasi seperti yang ia uraikan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang secara tajam dan mendalam. Selamat merayakan Hari Kartini!

 

Leave A Response »