Masa Keemasan Kerajaan Sriwijaya

admin September 20, 2012 0


Berbicara mengenai kerajaan Sriwijaya memang tidak ada habis-habisnya. Kali ini kita akan membahas mengenai masa-masa keemasan kerajaan Sriwijaya. Kita akan meniliknya dari berbagai sumber sejarah yang valid. Berdasarkan catatan I Tsing, pendeta asal Tiongkok yang berkunjung ke Sriwijaya, kerajaan Sriwijaya telah ada sejak 671 masehi. Menurut keterangan prasasti Kedukan Bukit, pada tahun 682 kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh Dapunta Hyang. Tercatat oleh para pedagang Tiongkok bahwa ada dua kerajaan besar di selat Malaka yakni Malayu dan Kedah menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya.

Masa Keemasan Kerajaan Sriwijaya

Dalam prasasti Kota Kapur yang memiliki tahun pembuatan 686 dan ditemukan di pulau Bangka, pada tahun tersebut kerajaan Sriwijaya telah menguasai bagian barat Sumatera, pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung. Sriwijaya memang termasuk dalam kerajaan maritim yang tangguh. Salah satu bukti bahwa kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang tangguh, kaya dan kuat adalah adanya armada angkatan laut yang memberikan perlindungan kepada negara-negara lain karena Sriwijaya memiliki banyak negara bawahan.

Luasnya daerah kekuasaan yang dimiliki tentu saja membuat Sriwijaya memiliki banyak nama. Orang Tiongkok saja menyebutnya dalam 3 nama yang berbeda, tergantung dialek mereka seperti Shih Li Fo Shih atau San Fo Tsi atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansakerta disebut sebagai Yavadesh, sedangkan dalam bahasa Pali disebut sebagai Javadeh. Bangsa Arab menyebut kerajan ini Zabaj, sedangkan orang Khmer menyebutnya Malayu. Nama yang banyak ini merupakan alasan kenapa Sriwijaya sulit ditemukan.

Ada bukti lain mengenai kerajaan Sriwijaya yang disebut sebagai kerajaan kaya raya. Berita arab yang berasal dari Ibnu Nordadzbeh yang bertahun 844-648 masehi mengatakan bahwa Raja Zabaj (Sriwijaya) disebut sebagai maharaja yang kekuasaannya meliputi pulau-pulau yang ada di lautan Timur. Hasil negeri ini berupa kapur barus. Gajah juga ada banyak disana. Menurut Ibn Roteh pada 903 masehi mengatakan bahwa Maharja Zabaj merupakan raja terkaya jika dibandingkan dengan raja-raja di India. Ibn Zayd pada 916 masehi mengatakan bahwa Maharaja Zabaj setiap hari melemparkan segumpal emas ke danau dekat istana.

Sriwijaya melakukan ekspansi wilayah ke banyak daerah sejak abad ke-7 masehi. Ekspansi yang dilakukan bertujuan untuk kemakmuran rakyatnya. Ekspansi ini meliputi Jawa dan Semenanjung Malaya sehingga mengontrol dua jalur pelayaran terbesar kala itu, Selat Malaka dan Selat Sunda yang mana merupakan jalur perdagangan penting di dunia. Pemasukan terbesar adalah bea cukai yang dikenakan pada setiap kapal dagang yang singgah. Hal ini memberikan pemasukan yang tidak sedikit bagi kerajaan.

Pada masa kekuasaan raja Samaratungga, yakni pada tahun 795 hingga 835, ekspansi militer Sriwijaya sudah berkurang. Samaratungga lebih banyak menghabiskan sumber daya untuk memperkuat penguasaan kerajaan di Jawa. Pada masa kepemimpinan Samaratungga inilah candi Borobudur yang sangat megah itu dibangun dan selesai pada tahun 825 masehi. Saat ini candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan kerajaan Sriwijaya yang masih bisa kita lihat keberadaannya

Mempelajari sejarah kerajaan Sriwijaya yang begitu besar dan gemilang dapat memacu motivasi dalam diri untuk mengembalikan kedahsyatan bangsa kita. Rasa cinta terhadap tanah air menjadi semakin besar, memicu pada keinginan untuk bangkit. Kita adalah bangsa besar di masa lalu, bangsa yang menjadi trend-setter di masanya. Bukan hanya bangsa yang mengekor bangsa lain. Semoga kita segera bangkit untuk menyongsong Indonesia Jaya di masa depan, sejaya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan besar lainnya di Nusantara. (iwan)

 

Leave A Response »