Evolusi dan revolusi sebagai jalan perubahan sosial

admin November 29, 2012 0


Seperti yang pernah kami singgung dalam pembahasan kami yang lalu, perubahan sosial dapat terjadi dalam dua jalan dan kondisi, yakni revolusi dan evolusi. Proses evolusi adalah proses perubahan yang lama, secara perlahan dan berkaitan dengan kesadaran baru mengenai pertahanan hidup. Evolusi biasanya terjadi pada masyarakat tradisional yang digambarkan sebagai hal yang lampau, dari masa lalu. Hal ini dikarenakan terjadinya persekutuan antara pikiran manusia, kosmik dan alam yang lebih terjaga, adanya keteraturan dan pandangan hidup yang berdasarkan mitos, dimana mitos tersebut disampaikan secara turun temurun, rural dan mistis.Dalam masyaakat tradisional, terjadi tradisionalitas dalam perubahan sosial yang sebenarnya sangat individual. perubahan sosial

Segala aturan berupa custom, mores, folkway dan usage didasarkan pada pengalaman responsif berhadapan dengan sesama manusia atau alam sekitar. Etika memegang peranan penting dalam masyarakat ini dan dihujamkan ke individu melebihi pemahaman terhadap hukum positif manapun. Secara perlahan, masyarakat berubah melewati kebiasaan dan pembiasaan baru dari luar atau impostor. Maka secara perlahan, dalam hitungan tahun kemudian masyarakat mengalami perubahan yang besar, menjadi lebih individualistis. Salah satunya karena kehadiran teknologi televisi. Secara perlahan, mereka mengalami modernisasi yang diakibatkan oleh injeksi kemodernan yang mereka dapatkan secara tidak langsung. Alat-alat modern akan terus datang dan mereka akan terbiasa dengan hal itu. Lalu secara tidak disadari, perubahan sosial telah terjadi.

Selain perubahan yang terjadi secara perlahan atau evolusi, ada juga jalan perubahan sosial yang lain, yakni revolusi. Perubahan sosial secara revousi adalah perubahan yang cepat dan drastis yang bisa dirasakan oleh siapapun yang terlibat maupun tidak. Perubahan sosial secara revolusi ini pada awalnya terjadi karena kedudukan modernitas yang merupakan montase dari nilai murni yang dianut dalam suatu komunitas manusia dengan nilai acuan dan ajuan yang dapat mereka rumuskan setiap tahun dalam bentuk birokratisasi. Nilai-nilai murni ini kemudian dilegalkan dalam teori mengenai kependudukan dengan penganjuran urbanisasi dan penyisihan (atau lebih tepatnya isolasi) pada kaum raral dari budaya perkotaan. Adanya perubahan budaya politik yang kolot menjadi demokratisasi melalui birokratisasi tingkat desa menjadi agen dari perubahan sosial tersebut.

Maka dari itu ada semacam pemaksaan kondisi, dimana tidak ada pilihan bagi sekelompok orang yang tergabung dalam suatu masyarakat kecuali untuk berubah. Yang dilakukan birokrat dalam melakukan revolusi sosial ini dinamakan stimulus sosial, dimana ada semacam iming-iming dalam kondisi yang dimitoskan “tidak nyaman” menjadi suatu kondisi “nyaman” demi percepatan kemajuan suatu negara. Selain itu revolusi juga dapat terjadi sebaliknya, yakni saat masyarakat sudah jenuh dengan kenyamanan palsu, dimana jurang antara satu kelompok dengan kelompok lainnya menjadi semakin melebar, maka mereka akan menuntut suatu perubahan yang segera. Perubahan ini sering memaksa birokrat untuk keluar dari zona nyaman. Jika stimulus sosial memaksa masyarakat untuk melakukan revolusi, maka protes sosial dapat memaksa birokrasi menyesuaikan dengan keinginan masyarakat.

 

Leave A Response »