Sepertiga pengguna Facebook mengisi profil dengan sebenarnya

facebook

facebook
Tahukah anda, bahwa data pribadi yang anda tulis di Facebook digunakan untuk kepentingan iklan? Aturan penggunaan pada Facebook mengatur hal tersebut. Ketika anda membuat Facebook, anda diminta membaca aturan penggunaan dan perjanjian penggunaan akun oleh Facebook. Dalam perjanjian tersebut ada beberapa pasal yang mengatur bahwa data yang anda menyetujui setiap data yang anda kirimkan kepada Facebook dapat menjadi aset bagi Facebook untuk digunakan sebagai patokan dalam memberikan iklan di halaman profil anda. Itulah mengapa sebabnya Facebook selalu bisa memberikan iklan persis seperti keinginan anda. Misalnya anda penyuka Batman dan menyukai beberapa fan page Batman, maka anda akan mendapatkan iklan seputar produk yang berkaitan dengan Batman atau mengandung promosi Batman, dan semacamnya.

Dari situlah Facebook mendapatkan uang untuk membiayai perusahaan yang sekarang menjadi sangat besar setelah sahamnya ditawarkan ke publik, juga untuk membiayai pernikahan Zuckerberg dengan seorang gadis China itu, tentunya. Sistem keamanan yang dimiliki Facebook tentu saja sudah ditingkatkan dari hari ke hari. Dengan sumber daya manusia dan sumber daya finansial yang besar tentu saja tidak sulit bagi Facebook untuk melakukan pengamanan terhadap data-data yang ada di dalamnya. Namun apakah pengguna percaya dengan keamanan sistem yang ada pada Facebook? Apakah mereka mengisi informasi yang sebenarnya pada profil Facebook mereka?

Ternyata hanya 33 persen dari pengguna Facebook yang mengisi profil mereka dengan informasi yang sebenarnya dan bersedia membaginya untuk digunakan sebagai kepentingan iklan. Hal ini terungkap dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Harris Interactive mengenai kepercayaan pengguna terhadap sistem keamanan situs besar Facebook, Google dan Amazon. Namun jumlah kepercayaan berbeda dialami oleh Google dan Amazon. Orang yang mempercayakan datanya kepada Google sebanyak 41 persen, sedangkan pada Amazon lebih besar lagi, yakni sekitar 66 persen. Study yang melibatkan 2.262 responden ini dilakukan di Amerika Serikat baru-baru ini dengan sampling yang tersebar merata di semua kalangan.

Kami menduga bahwa hal ini berkaitan dengan eksposur atau paparan data tersebut. Orang mengira bahwa di Facebook data mereka akan bisa dilihat oleh orang banyak, meskipun bisa diatur privasinya, tidak semua orang paham tentang hal tersebut. Sedangkan pada Google dan Amazon, orang menganggap bahwa data mereka tidak akan tersedia bagi public secara default, sehingga mereka merasa aman memberikan data yang sebenarnya. Selain itu, di Amerika Serikat, privasi bisa menjadi momok yang menakutkan dan sangat dijaga kerahasiaannya. Kami menduga bahwa hasil survey ini pasti akan berbeda jika dilakukan di Indonesia dengan tingkat pengguna internet yang masih awam. (iwan)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *