Jenis-Jenis pisang | macam-macam pisang

admin June 30, 2011 0


Berdasarkan manfaatnya, pisang dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu pisang serat, pisang hias dan pisang buah. Pisang serat (Musa Textilis), bagian yang dimanfaatkan bukan buahnya, tetapi serat batangnya yang digunakan untuk pembuatan tekstil. Contoh pisang serat adalah Pisang Abaka. Pisang hias umumnya ditanam sebagai tanaman hias yang dapat mempercantik tanaman. Contoh pisang hias adalah pisang kipas dan pisang-pisangan. Pisang buah (Musa paradisiaca) di tanam dengan tujuan untuk dimanfaatkan buahnya.
jenis jenis pisang
Pisang buah dibagi menjadi empat golongan. Pertama, pisang yang dapat dimakan langsung setelah matang (disebut juga pisang meja) atau dikenal dengan banana. Contohnya, pisang susu, pisang hijau, pisang mas, pisang raja, pisang ambon kuning, pisang ambon lumut, pisang barangan, pisang seribu, pisang cavedish. golongan banana mempunya bentuk buah yang ujungnya tumpul dan rasa buahnya yang enak jika sudah matang.

Kedua, pisang yang dapat dimakan setelah diolah terlebih dahulu (plantain). Contohnya, pisang tanduk, pisang nangka, pisang oli, pisang kepok, pisang kapas, pisang siam, dan pisang bangkahulu. Golongan plantain mempunyai bentuk buah yang ujungnya runcing, permukaan buah mengkilap, berkadar pati tinggi, dan beraroma kurang tajam. Ketiga, pisang yang dapat dimakan langsung setelah masak atau setelah dioleh terlebih dahulu, seperti pisang kepok dan pisang raja. Keempat, pisang yang dapat dimakan ketika masih mentah, seperti pisang klutuk (pisang batu) yang berasa sepat dan enak untuk rujak.

Di Indonesia, terdapat lebih dari 230 jenis pisang. Namun, jenis pisang yang biasa dijual di pasaran dan umum dikonsumsi adalah pisang barangan, pisang raja, pisang raja sereh, pisang raja uli, pisang jara jambe, pisang raja molo, pisang raja kul, pisang raja tahun, pisang raja bulu, pisang kepok, pisang tanduk, pisang mas, pisang ambon lumut, pisang ambon kuning, pisang nangka, pisang kapas, pisang kidang, pisang lampung, dan pisang tongkat langit.

Buah pisang merupakan buah klematerik, yakni buah yang masih melakukan respirasi setelah pemanenan sehingga pemasakan buah dapat diatur dengan menggunakan etilen (zat karbit). Kematangan buah pisang dapat amati secara fisik. Tanda buah pisang yang sudah tua sebagai berikut :
1. Buah tampak berisi
2. Bagian lingir (tepi) buah sudah tidak bersudut lagi
3. Warna buah hijau kekuningan dan tangkai di bagian putik telah gugur.

Tingkat kematangan buah pisang juga dapat ditentukan dari umurnya. waktu yang diperlukan dari saat tanaman panen rata-rata 12 – 15 bulan. Jika dihitung dari saat mula berbunga adalah 4 – 6 minggu, tergantung dari varietasnya.

Perubahan warna merupakan perubahan fisik yang paling menonjol pad proses pematangan buah pisang. Buah yang masih muda berwarna hijau karena masih banyak mengandung klorofil. Proses perubahan warna kulit pisang dari hijau menjadi kuning disebabkan oleh hilangnya klorofil tanpa atau hanya sedikit pembentukan karotenoid.

Perubahan kimia yang sangat menonjol pada saat proses pematangan buah pisang adalah perubahan pati menjadi gula. Kandungan pati pada buah pisang masih muda lebih dominan. Pada saat buah pisnag sudah matang, sebagian besar kandungan pati akan digantikan oleh sukrosa, glukosa, dan fruktosa, serta sejumlah kecil maltosa. bersamaan dengan peningkatan kadar gula, kandungan pati menurun sekitar 20 % pada bagian buah yang masih hijau antara 1 – 2 % dalam buah yang matang. Karena itu, buah pisang yang sudah matang terasa lebih manis.

Pisang yang sudah matang akan mudah busuk karena kadar airnya cukup tinggi. Untuk memperpanjang daya awet dan daya gunanya, buah pisang dapat dioleh menjadi berbagai produk. Buah pisang mentah dapat diolah menjadi gaplek pisang, tepung, pati, sirup glukosa, tape, dan keripik. Buah pisang matang dapat diolah menjadi sale, selai, dodol, sari buah, anggur, bubur (pure), saus, nektar, pisang goreng, pisang epe, pisang rebus, kolak, getuk, ledre, pisang panggang keju, dan aneka kue.

dikutip dari buku membuat aneka olahan pisang oleh Eddy Setyo Mudjajanto, Lilik Kustiyah

 

Leave A Response »