Mengenal khitan dan sejarahnya

khitan dan sejarah

khitan dan sejarah

Khitan

Kata khitan berasal dari bahasa arab yang artinya adalah “memotong. Pengertian memotong yang dimaksud dalam khitan adalah memotong kulit yang menutup alat kelamin pria. Khitan ini adalah suatu syariat atau tata cara dalam agama keturunan Ibrahim, yakni agama Yahudi dan Agama Islam. Dalam ajaran agama Nasrani sebenarnya ada perintah khitan, namun jarang dijalankan oleh penganutnya. Dalam budaya masyarakat Indonesia, khitan disebut sebagai sunat. Penduduk Indonesia yang mayoritas Islam membuat khitan menjadi sebuah budaya. Memang Islam mewajibkan khitan. Oleh karena itu khitan dirayakan dengan meriah dan menjadi peristiwa yang maha penting bagi orang tua dan anak laki-laki. Seorang anak laki-laki baru dianggap sudah menjadi “pria” jika sudah dikhitan.

Dalam Islam, ada alasan kenapa diwajibkan khitan. Alasannya adalah sebagai proses untuk menyucikan diri dari najis. Kulit pada ujung kemaluan atau yang dinamakan kulup akan dapat menampung kotoran yang berasal dari air seni dan keringat. Tentu saja ini menjadi najis, padahal orang Islam diwajibkan bersih. Jika seorang lelalki sampai usia baligh atau sekitar 12-15 tahun belum dilaksanakan khitan, maka ibadah sholatnya tidak sah karena ada kotoran dalam kemaluannya. Khitan juga menjadi acuan kedewaan selain datangnya masa baligh itu. Dengan keadaan yang bersih, maka sholatnya akan diterima dan masuk dalam catatan amal baiknya.

Manfaat khitan bagi kesehatan

Dalam sejarah agama Islam, perintah khitan sudah diberikan sejak jaman nabi Ibrahim. Pada saat melakukan kewajiban tersebut, nabi Ibrahim sudah berusia 80 tahun. Maka dari itu sebagai penganut agama Islam, sudah sepantasnya mengikuti kewajiban ini. Namun sebelum hari ini, kewajiban khitan menjadi perdebatan para ulama karena belum diketahui secara pasti manfaat medis yang diperoleh. Muslim hanya melakukan ini karena perintah Allah. Khitan tentu saja menakutkan pada masa itu karena teknologi kedokteran belum semaju sekarang ini. Namun meskipun begitu, khitan telah dilakukan sebagai bentuk keta’atan kepada Allah dan nabiNya.

Penelitian lebih lanjut di jaman modern ini menunjukkan hal yang positif dengan perintah khitan ini. Khitan bermanfaat besar bagi kesehatan reproduksi pria dan wanita. Khitan dapat menghindari kotoran yang menumpuk di dalam kulup (kulit ujung kelamin) jika tidak dibuang. Penimbunan kotoran ini dapat menyebabkan timbulnya bakteri berbahaya yang dapat merugikan kesehatan. Dibuangnya kulup akan menurunkan tingkat infeksi penyakit organ kelamin pada pria. Selain itu fenis akan menjadi lebih bersih dan ketika berhubungan intim dengan istri, tidak ada kotoran yang masuk ke dalam organ reproduksi istri. Hal ini tentu saja juga membuat istri terhindar dari penyakit. Dengan alasan inilah orang melakukan khitan sehingga saat ini tidak hanya Muslim saja yang melakukan khitan. Ada juga orang yang beragama lain, bahkan tidak beragama sekalipun juga melakukan khitan. Semua karena manfaat medisnya yang besar. Bahkan beberapa rumah sakit telah menawarkan proses khitan ini bagi bayi yang baru lahir.

Khitan di Indonesia

Di Indonesia, pelaksanaan khitan memang tidak selalu langsung dilakukan ketika bayi baru lahir. Khitan umumnya dilakukan pada seorang anak laki-laki ketika sudah memiliki kesiapan mental. Hal ini dilakukan karena khitan dianggap tidak hanya berdampak secara fisik, namun juga secara psikis. Setelah seseorang dikhitan, maka secara agama ia telah memasuki tahapan pencatatan amalan yang mana ia wajib menjalankan seluruh perintah Allah. Dengan demikian anak laki-laki memiliki usia yang berbeda dalam hal kesiapan melakukan khitan.

Selain kesiapan usia melakukan khitan ditinjau dari sisi mental, maka harus tetap ditinjau dari sisi kesehatan juga. Meskipun seorang anak telah siap melakukan khitan secara mental, namun bukan berarti seorang anak siap secara kesehatan dikarenakan dibutuhkan waktu bagi alat kelamin anak laki-laki untuk mencapai pertumbuhan yang maksimal. Dalam proses pertumbuhan tersebut, ada baiknya bahwa alat kelamin anak laki-laki jangan dikhitan terlebih dahulu karena akan mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas kesehatannya.

Oleh karena itu, meskipun pelaksanaan khitan sangat mudah, ditunjang dengan berbagai macam klinik dan kegiatan khitanan massal oleh organisasi sosial tertentu, pelaksanaan khitan harus juga memperhatikan faktor usia yang cukup sehingga kesiapan seseorang lengkap secara fisik dan mental. Apalagi sekarang ini ada metode sunat yang bisa dikatakan “tidak sakit” yakni dengan laser, dimana dengan cara ini, seorang anak kecil pun tidak akan takut jika diberitahu dengan benar.

Dewasa ini banyak orang yang melakukan khitan anak lelakinya yang usianya masih beberapa hari atau beberapa bulan. Keputusan yang seperti ini perlu dipertimbangkan kembali untuk kebaikan anak lelakinya di kemudian hari. Baiknya, usia seorang anak yang dikhitan adalah diatas 7 tahun, dibawah 13 tahun. Waktu yang paling tepat adalah ketika anak mendapatkan perubahan kelamin primer dengan mimpi basah dan juga kelamin sekunder seperti munculnya bulu-bulu di tubuhnya dan suara yang menjadi lebih besar. Ditinjau dari sisi agama, anak lelaki yang sudah memiliki tanda-tanda seperti ini, maka ia sudah disebut aqil baligh dan wajib menjalankan perintah agama. Scara umum, pada masa ini pertumbuhan alat kelamin anak lelaki dianggap cukup dan siap untuk dilakukan khitan.

Selain itu dalam melaksanakan khitan juga harus diperhatikan teknik dan peralatan yang digunakan. Saat ini memang sudah banyak berkembang teknik dan peralatan medis yang membuat rasa sakit khitan menjadi minimal dan tidak mudah infeksi. Klinik penyedia layanan khitan juga beragam dan sebaiknya dipilih yang terpercaya. Caranya adalah mencari klinik yang pernah diminta jasanya oleh orang-orang terdekat. Dengan ini, maka khitan dapat dilakukan dengan baik dan seorang anak lelaki mendapatkan manfaat sepenuhnya dari khitan. (iwan)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *