Perpecahan Kelompok Masyarakat Islam Aliran Syi’ah

Perpecahan Kelompok Islam Aliran Syi'ah

Syi’ah adalah golongan umat Islam yang terlalu mengagungkan keturunan Nabi Muhammad SAW. Mereka meyakini bahwa hanya keturunan Nabi yang lebih berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Arti kata Syi’ah adalah sahabat atau pengikut.

Setelah Nabi wafat, seorang dari keluarganya yang sudah masuk Islam adalah pamannya, yaitu Abbas ibn Abdul Muthalib, begitu juga dengan Ali ibn Abi Thalib yang kemudian menjadi menantu Nabi.
Perpecahan Kelompok Islam Aliran Syi'ah
Mereka itulah keturunan terdekat dengan Nabi dibanding dengan yang lain. Dengan demikian, orang-orang inilah yang paling berhak untuk mendapat julukan keluarga Nabi. Golongan Syi’ah menetapkan bahwa Imam Ali adalah orang yang paling berhak memegang jabatan khalifah sesudah Nabi.

Syi’ah berkeyakinan bahwa yang dijadikan imam sesudah wafatnya Nabi ialah Ali. Ali adalah guru yang ulung. Ali adalah orang yang mewarisi segala pengetahuan yang ada pada Nabi, Ali adalah manusia yang dianggap istimewa dan dianggap ma’shum dari kesalahan.

Oleh karena itu, menurut mereka menaati dan mempercayai Ali termasuk rukun iman juga. Adapun khalifah yang terdahulu adalah khalifah-khalifah yang merampas hak Ali sehingga kekhalifahan mereka tidak sah. Selain itu, ada pula aliran Syiah Zaidiyah yang menganggap kekhalifahan sebelum Ali itu pun sah.

Pandangan Aliran Syi’ah Terhadap Syariat Islam

Aliran Syi’ah memiliki pandangan sebagai berikut:

1. Tauhid

Golongan Syi’ah percaya sepenuhnya kepada Allah bahwa Allah itu Maha Esa. Kepercayaan ini tidak berbeda dengan konsep agama Islam yang asli.

2. Keadilan

Golongan Syi’ah percaya bahwa Allah itu Maha Adil. Konsep keadilan golongan Syi’ah sama dengan ajaran Mu’tazilah.

3. Kenabian

Keyakinan Syi’ah terhadap kenabian tidak berbeda dengan pemikiran muslim lainnya, yaitu:

1. Jumlah Nabi dan Rasul yang diutus Allah berjumlah 124 ribu.
2. Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad SAW.
3. Nabi Muhammad adalah Nabi yang ma’shum atau suci dari aib apapun.
4. Istri-istri Nabi tergolong orang yang suci dan terhindar dari keburukan.
5. Al-Quran merupakan mukjizat nabi yang kekal.

Pembagian Golongan Syi’ah

Sesudah Ali, kekhalifahan Islam turun-temurun kepada anak cucunya dan ini seolah merupakan ketetapan Allah. Tetapi dalam menentukan keturunan itu timbul pula perbedaan pendapat. Ali mempunyai anak Hasan dan Husein. Hasan dan Husein memiliki keturunan beberapa orang pula. Akhirnya timbul pertikaian mengenai pemilihan khalifah. Akibatnya, golongan Syi’ah pecah menjadi 20 golongan. Beberapa diantaranya adalah:

1. Al-Imamiyah (Al-Istna ‘Asyriyah)

Pendirian golongan ini adalah bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan kekhalifahan itu kepada Ali. Kemudian akan diturunkan kepada keturunan Fatimah. Adapun Abu Bakar dan Umar adalah orang-orang yang merampas.

Golongan ini juga meyakini bahwa percaya kepada kekhalifahan Ali termasuk rukun iman. Golongan ini menetapkan bahwa imam itu hanya 12 orang saja. Diantaranya seorang imam yang sedang ditunggu kedatangannya ke dunia pada akhir zaman ini.

2. Az-Zaidiyah

Dinamakan golongan Az-Zaidiyah karena menurut nama Zaid bin Zainul Abidin bin Al Husein bin Ali. Az-Zaidiyah merupakan golongan Syi’ah yang paling murni dan dekat pendiriannya dengan Ahli Sunah wal-Jama’ah. Bisa dikatakan bahwa penyimpangan kelompok Syi’ah ini paling sedikit dibanding kelompok Syi’ah lainnya.

Mereka tidak membenarkan pengakuan sifat-sifat yang berlebih-lebihan atau sifat-sifat khayalan yang diberikan kepala Ali, seperti anggapan bahwa Ali bersifat sama dengan sifat-sifat ketuhanan dan sebagainya.

3. Al-Isma’iliyah

Golongan Al-Isma’iliyah yaitu kelompok Islam sesudah wafatnya Nabi Muhammad yang mengimamkan Ismail bin Ja’far Ash-Shiddiq. Penganut mazhab ini menghimpun pelajaran-pelajarannya dalam sembilan tingkat, dimulai dari gerakan-gerakan yang meragukan pokok-pokok pelajaran Islam.

Kelompok Al-Isma’iliyah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada kekafiran. Pertanyaan tersebut antara lain: Apakah arti melempar jumrah? Apakah arti mencium hajar aswad? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dilakukan terus-menerus, sampai para pengikutnya merasa ragu-ragu tentang ajaran-ajaran Islam. Bila sudah ragu-ragu tentu saja orang akan menghindari ajaran-ajaran Islam, lalu membebaskan dirinya dari aturan-aturan syariat Islam.

Mereka menakwilkan ajaran-ajaran Islam sekehendaknya saja, jauh dari kehendak Islam yang sesungguhnya. Mereka mengatakan bahwa wahyu itu semata-mata dicapai oleh kesucian dan kejernihan jiwa dan segala upacara-upacara Islam, seperti sembahyang, puasa hanyalah ditentukan untuk orang-orang umum. (Agus)

Referensi:
http://beritakbar.blogspot.com/2012/01/pelajaran-dari-kasus-syiah-di-sampang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Syi%27ah

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *