Nikah terlarang dalam Islam – Nikah Mut’ah

Nikah Mut’ah

Kita kembali lagi ke bahasan nikah yang terlarang dalam Islam. Meskipun nikah adalah sesuatu yang baik, namun bisa menjadi terlarang jika niatnya tidak baik. Nikah mut’ah adalah suatu pernikahan dimana seseorang pria menikahi wanita dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati dan memberikan sejumlah imbalan. Waktu nikah ini bisa bermacam-macam, mulai hitungan minggu, bulan atau tahun. Setelah itu bercerai dan tidak ada lagi tanggung jawab dari si pria. Nikah mut’ah seringkali disebut sebagai nikah sementara, nikah terputus atau nikah kontrak. Hal ini biasa dilakukan oleh beberapa orang seperti yang heboh di Bogor, Jawa Barat beberapa saat lalu. Turis dari beberapa negara Arab melakukan nikah kontrak selama berada disini, lalu selesai setelah mereka kembali ke negaranya. Nikah ini juga sering terjadi di masyarakat, yakni ketika ada gadis yang hamil diluar nikah, dicarikan pria yang bisa menutupi aib tersebut. Pria itu diberi sejumlah imbalan untuk menikahi gadis tersebut dan bercerai tidak lama setelah anaknya lahir.

Nikah Mut’ah

Hukum nikah mut’ah

Pada awal-awal Islam, nikah mut’ah adalah halal. Lalu setelah itu hukum halal itu dinaskh atau dihapus dan menjadi haram hingga hari kiamat. Demikian adalah yang menjadi pegangan mayoritas sahabat, tabi’in dan para ulama dalam Shahih Fiqh Sunnah 2:99.

Dari Sabroh Al Juhaniy ra., beliau berkata yang artinya:

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kami untuk melakukan nikah mut’ah pada saat Fathul Makkah ketika memasuki kota Makkah. Kemudian sebelum kami meninggalkan Makkah, beliau pun telah melarang kami dari bentuk nikah tersebut.” HR. Muslim no. 1406

Dalam pengucapan yang lain disebutkan yang artinya:

Wanita-wanita tersebut bersama kami selama tiga hari, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk berpisah dari mereka.” HR. Muslim no. 1406

Dalam suatu perkataan yang lain, Sabroh Al Juhaniy mengutip sabda Rasulullah, yang artinya:

Wahai sekalian manusia. Awalnya aku mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para wanita. Sekarang, Allah telah mengharamkan (untuk melakukan mut’ah) hingga hari kiamat.” HR. Muslim no. 1406

Riwayat diatas menunjukkan bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah fasid, yakni tidak sah. Sehingga pasangan yang menikah dalam bentuk pernikahan ini harus dipisah. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah dalam hadits diatas.

Bukan perjanjian namun hanya niat

Bagaimana jika di awal pernikahan tidak ada perjanjian namun hanya ada niatan dari si pria untuk menceraikan sang istri dalam jangka waktu tertentu? Hal ini memang sedikit berbeda dengan definisi nikah mut’ah diatas. Ini adalah nikah dengan niatan cerai. Si istri awalnya tidak tahu dengan niatan ini. Menurut mayoritas ulama, nikahnya tetap sah jika tidak membuat syarat diawal. Hal ini karena niat dalam hati ini bisa terwujud bisa tidak, karena tidak adanya kesepakatan. Namun ulama lainnya menganggap bentuk nikah ini sama-sama nikah mut’ah seperti yang dijelaskan oleh Al Auza’i dan Syaikh Mohammad bin Sholeh Al ‘Utasimin dalam Shahih Fiqh Sunnah 2:101.

Demikian adalah hukum nikah mut’ah. Dengan ini kita mengetahui bahwa nikah kontrak, seperti yang sering terjadi di masyarakat kita adalah haram menurut Islam. Hal ini sebenarnya untuk melindungi hak-hak wanita yang bisa tidak terpenuhi karena kesepakatan dalam nikah kontrak tersebut. Semoga bermanfaat. (iwan)

Nikah terlarang dalam Islam – Nikah Mut’ah

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *