Mengusap perban dan pembatal tayamum

Mengusap perban dan pembatal tayamum

Dalam Islam, ada keringanan-keringanan yang disebabkan oleh suatu keadaan tertentu. Keringanan tersebut muncul dikarenakan Allah menyayangi manusia dan tidak memberikan beban diluar kesanggupannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala yang artinya:

Allah tidak akan membebankan kepada seseorang melainkan menurut kesanggupannya.” QS. Al-Baqarah: 286

Dalam sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata bahwa:

Apabila aku memerintahkan kalian untuk menjalankan sesuatu maka laksanakanlah menurut kemampuan kalian.” HR. Muslim dan An-Nasa’i

Mengusap perban dan pembatal tayamum

Seseorang yang terluka parah atau patah tulang pada salah satu bagian tubuhnya yang biasa dikenai usapan wudhu dan tayamum, seperti luka pada wajah atau luka atau patah tulang pada anggota gerak, maka ia tidak memiliki kewajiban mengusapnya, baik dalam wudhu maupun tayamum. Dari ayat Al Quran dan hadits diatas, maka kewajiban mengusap bagian tubuh tersebut gugur karena orangnya tidak sanggup. Melakukan penggantian untuk mengusap yang lain, entah itu anggota tubuh lain atau perban/gips tersebut adalah tindakan yang tidak berdasarkan syariat. Tidak ada ayat Al Quran dan hadits yang menyebutkan tentang pengganti mengusap anggota badan yang terluka dengan mengusap gips atau pembalut luka. Maka dari itu, anjuran untuk mengusap perban adalah tindakan tertolak. Al-Wajiz, hal. 57

Hal-hal yang membatalkan tayamum

Karena tayamum sifatnya adalah pengganti wudhu dalam kondisi tertentu, maka sebab yang membatalkan tayamum sama seperti sebab membatalkan wudhu. Selain itu tayamum dinilai batal jika:

  1. Orang tersebut menemukan air, setelah sebelumnya tidak menemukannya.
  2. Orang yang pada awalnya tidak sanggup menggunakan air karena sakit namun dapat kembali menggunakannya.

Shalat yang dilakukan sebelum tayamum batal adalah tetap sah dan tidak perlu diulangi. Hal ini sesuai dengan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri ra., dimana beliau berkata:

‘Ada dua orang lelaki yang menempuh suatu perjalanan. Maka tibalah waktu shalat sementara mereka berdua tidak mendapati air sama sekali. Oleh sebab itu mereka pun bertayamum dengan tanah yang suci lalu melakukan shalat. Kemudian pada suatu saat ternyata mereka menemukan air. Maka salah seorang dari keduanya mengulangi wudhu dan shalat, sedangkan kawannya yang satu tidak. Kemudian mereka berdua menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepada beliau. Maka beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, “Engkau telah sesuai dengan tuntunan. Dan shalatmu pun dinilai sah.” Dan beliau berkata kepada orang yang berwudhu dan mengulangi shalatnya, “Engkau memperoleh pahala dua kali.” HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i

Demikian adalah ulasan singkat mengenai hal lain dalam tayamum. Semoga bermanfaat. (iwan)

referensi : http://mah-taj.blogspot.com/2011/04/kitab-thaharah-pembatal-pembatal_27.html

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *