Hukum perlombaan dalam Islam

Hukum perlombaan dalam Islam

Dalam keadaan masyarakat dewasa ini, tentu banyak hal yang disebut sebagai perlombaan. Dalam Islam, perlombaan sendiri hukumnya boleh. Apalagi jika perlombaan itu ada hubungannya dengan persiapan untuk melakukan jihad berperang seperti lomba memanah dan pacuan kuda. Ulama bersepakat mengenai sunnah hal ini dalam ijma’ mereka. Mengenai persiapan jihad dalam hal ini berperang, maka Allah Ta’ala berfirman:  Hukum perlombaan dalam Islam

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat” QS. Al Anfal: 60

Yang dimaksudkan dengan kekuatan apa saja, ditafsirkan oleh Rasulullah sebagai memanah (HR. Muslim no. 1917). Namun dalam keadaan masyarakat dewasa ini, persiapan perang tentu saja banyak sekali, tidak terbatas memanah, berpedang dan menunggang kuda. Teknologi sudah maju sehingga membutuhkan lebih dari sekedar berkuda dan memanah. Bisa menembak, membuat benda-benda berteknologi dan lain sebagainya. Namun yang perlu dipahami, bahwa perlombaan atau musabaqah ini ada dua macam, yakni tanpa taruhan dan tanpa taruhan.

Perlombaan tanpa disertai taruhan

Hukum asal berlomba tanpa taruhan seperti lomba lari, perahu, balapan dan lain sebagainya adalah diperbolehkan. Pendapat mayoritas ulama memperbolehkan setiap perlombaan tanpa taruhan secara mutlak. Hal ini ditegaskan oleh saah satu ulama Hanafiyah, Ibnu ‘Abidin yang berkata:

Adapun perlombaan tanpa taruhan, itu boleh dalam berbagai macam bentuknya.” (Raddul Muhtar, 27: 20, Asy Syamilah)

Sedangkan dari madhzab Hambali, Ibnu Qudamah berkata:

Perlombaan itu ada dua macam: perlombaan tanpa taruhan dan dengan taruhan. Adapun perlombaan tanpa taruhan, itu boleh secara mutlak tanpa ada pengkhususan ada yang terlarang.” (Al Mughni, 11: 29)

Dalil dari kedua penjelasan diatas adalah sebuah hadits dimana ‘Aisyah ra. pernah berlomba lari dengan Rasulullah tanpa adanya taruhan. Dari ‘Aisyah ra. beliau menceritakan bahwa:

Ia pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar. ‘Aisyah lantas berlomba lari bersama beliau dan ia mengalahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala ‘Aisyah sudah bertambah gemuk, ia berlomba lari lagi bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun kala itu ia kalah. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ini balasan untuk kekalahanku dahulu.” HR. Abu Daud no. 2578 dan Ahmad 6: 264

Penjelasan diatas adalah pendapat mayoritas ulama. Meskipun ulama dari Hanafiyah memiliki pendapat yang sedikit berbeda. Mereka memberi syarat lomba yang dibolehkan hanyalah empat lomba, yakni lomab pacuan kuda, pacuan unta, memanah dan ditambah lomba lari. Hal ini memiliki dalil dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang mana Rasulullah bersabda yang artinya:

Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta, dan pacuan kuda.” HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no. 2574, Ibnu Majah no. 2878

Sedangkan dalil bolehnya lomba lari diambil dari hadits ‘Aisyah ra. diatas. Artinya, bagi ulama Hanafiyah, empat selain empat lomba diatas, maka hukumnya haram. Akan dikeluarkan dari keharaman jika ada dalil pengecualian. (iwan)

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *