Hukum mengeraskan bacaan sholawat setelah adzan

admin September 21, 2012 1


adzan

Mengeraskan bacaan sholawat setelah adzan seringkali dilakukan para muadzin dan ini sudah sering kita dengar. Bahkan ada yang melantunkannya dengan suara mendayu-dayu. Mungkin diantara kita sudah pernah mendengar bahwa ada anjuran membaca sholawat dan wasilah bagi Nabi Muhammad SAW, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash yang mendengar bahwa Rasulullah pernah bersabda, yang artinya:

Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10x. Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” HR. Muslim no. 875

Dari hadits diatas memang ada tuntunan bershawalat dan minta wasilah bagi Rasulullah setelah adzan. Inilah dalil para muadzin mengumandangkan sholawat keras-keras setelah adzan. Padahal amal ini telah dibahas oleh para ulama dan dianggap sebagai bid’ah sayyi’ah atau bid’ah yang tercela. Dalam Fiqih Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq berkata,

Mengeraskan bacaan shalawat dan salam bagi Rasul setelah adzan adalah sesuatu yang tidak dianjurkan. Bahkan amalan tersebut termasuk dalam bid’ah yang terlarang. Ibnu Hajar berkata dalam Al Fatawa Al Kubra, “Para guru kami dan selainnya telah menfatwakan bahwa shalawat dan salam setelah kumandang adzan dan bacaan tersebut dengan dikeraskan sebagaimana ucapan adzan yang diucapkan muadzin, maka mereka katakan bahwa shalawat memang ada sunnahnya, namun cara yang dilakukan tergolong dalam bid’ah. “

Menurut Syaikh Muhammad Mufti Ad Diyar Al Mishriyah, tidak ada satupun ulama yang mengatakan bahwa ucapan keliru seperti itu adalah diperbolehkan. Dikarenakan adzan itu hanya ada 15 kalimat dan diakhiri oleh “Laa iilaha illallah” saja yang boleh dikeraskan. Bid’ah dalam hal ibadah termasuk ke dalam bid’ah sayyi’ah, bukan bid’ah hasanah. Do’a yang diajarkan oleh Rasulullah setelah kumandang adzan adalah seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah, dimana ia mendengar Rasulullah bersabda, yang artinya:

Barangsiapa mengucapkan setelah mendengar adzan ‘Allahumma robba hadzihid da’watit taammati wash sholatil qoo-imah, aati Muhammadanil wasilata wal fadhilah, wab’atshu maqoomam mahmuuda alladzi wa ‘adtah’ [Ya Allah, Rabb pemilik dakwah yang sempurna ini (dakwah tauhid), shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah (kedudukan yang tinggi), dan fadilah (kedudukan lain yang mulia). Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqom (kedudukan) terpuji yang telah Engkau janjikan padanya], maka dia akan mendapatkan syafa’atku kelak.” HR.Bukhari no. 614

Semoga ini dapat menjadi bahan renungan untuk memperbaiki ibadah kita supaya bebas dari bid’ah yang tercela. (iwan)

 

One Comment »

  1. bustami October 9, 2012 at 10:51 am -

    terimakasih atas penjelasannya, inilah keterbatasan kita dalam memahami perintah untuk shalawat, kadang-kadang yang dilantunkan oleh para bilal sehabis azan sudah bukan shalawat lagi tetapi sudah seperti syair yang dilantunkan sekehendak hatinya, melantukan suara keras pada saat bershalawat baik sehabis azan maupun sehabis shalat dengan memakai pengeras suara padahal didalam mesjid banyak orang melaksakan shalat sunat, bukankah itu pekerjaan yang sis-sia dan mengganggu orang lain? Saya mohon disampaikan bagaimana shalawat yang benar yang diajarkan oleh nabi dan dipraktekkan oleh para sahabat, tabi’ dan tabik tabi’in!

Leave A Response »