Tiga Hal yang Dapat Merusak Kehidupan Remaja Kita

perusak Kehidupan Remaja

Masa remaja dan beranjak mendekati dewasa adalah masa yang penuh energi, penuh ambisi dan keinginan untuk menjadi beda daripada yang lain. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, justru itu adalah tanda bahwa remaja sehat secara fisik dan mental. Tiada gairah dan semangat hidup serta bermalas-malasan justru menjadi masalah tersendiri bagi orang tua. Bagi remaja yang penuh semangat, selalu ingin menjalin hubungan dengan banyak orang. Rasa ingin tahunya sangat besar sekali, sehingga terkadang ia berada di wilayah yang menyerempet bahaya. Meskipun kemungkinan dia tahu bahwa itu berbahaya, tetap akan dilakukannya, karena semangat untuk disebut sebagai sang pemberani dan “berbeda” dari yang lainnya.


perusak Kehidupan Remaja

Pada umumnya remaja tidak bisa membedakan mana baik dan mana yang buruk. Mereka masih dalam masa transisi antara anak-anak menuju dewasa. Dimana pemikiran yang polos mendominasi, sedangkan secara fisik ia sudah mampu seperti orang dewasa pada umumnya. Inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dengan menghembuskan isu-isu tertentu, mereka memanfaatkan remaja untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Pola pikir remaja yang belum terbentuk sempurna memudahkan mereka untuk memasukkan doktrin-doktrin yang umumnya bertentangan dengan norma-norma yang ada. Siapakah mereka itu?

1. Bandar narkoba.
Sasaran paling mudah dari penjualan narkoba adalah anak muda, terutama di kalangan remaja. Pemasarannya bisa menjadi viral marketing. Para bandar ini memberikan narkoba secara gratis sekali hingga dua kali pada remaja. Mereka umumnya membujuk dengan berdalih bahwa narkoba bisa membuat sang remaja mendapatkan apa yang ia inginkan. Misalnya supaya bisa konsentrasi kalau menerima pelajaran, lebih kuat dalam berolahraga, dan lain sebagainya. Remaja yang tidak mengetahui bahwa itu narkoba dengan mudah dapat terjerumus di dalamnya. Selain itu, mereka lalu juga mempromosikan narkoba ini kepada teman-temannya. Jadilah geng remaja pemakai narkoba. Remaja yang memakai narkoba ini sangat berpengaruh kepada kehidupannya. Ketika mereka sudah tidak punya uang untuk membeli narkoba, mereka bisa mencuri atau yang lebih mudah lagi menjadi pengecer narkoba di kalangan mereka sendiri.

2. Geng motor.
Perlu diperjelas lagi, yang dimaksud geng motor disini adalah kumpulan orang atau remaja yang berkumpul dalam satu perserikatan dan ciri khas mereka adalah menggunakan sepeda motor. Geng motor berbeda dengan klub motor. Klub motor dibentuk secara resmi dan disahkan oleh Kepolisian Daerah setempat. Geng motor cenderung menjadi pelanggar lalu lintas, sedangkan klub motor kegiatannya positif dan didukung oleh aparat serta terkadang disponsori oleh ATPM atau dealer sepeda motor terkemuka di kota tempat mereka eksis. Dengan memanfaatkan rasa ingin tahu dan perasaan ingin berkuasa dari para remaja, orang yang mendirikan geng motor merekrut para remaja untuk menjadi pengikut mereka. Dengan hirarki yang ketat, sistem perpeloncoan dan doktrin yang kuat, mereka berhasil mencuci otak para remaja supaya mengikuti kemauan mereka. Selain itu mereka juga menghembuskan kebanggan semu kepada mereka bahwa menjadi geng motor itu keren.

3. Teroris laknat.
Jika geng motor itu adalah fanatik golongan kiri, maka teroris adalah fanatik golongan kanan. Dengan alasan perintah agama, orang-orang ini tidak segan-segan melukai orang lain yang meskipun seagama namun tidak sepaham dengan mereka. Bahkan untuk membunuh orang-orang yang menurutnya boleh dibunuh, mereka mengorbankan saudara mereka yang seagama. Mereka menyebutnya korban tambahan karena orang-orang itu sama berdosanya karena berdekatan dengan orang-orang yang menurut mereka kafir. Gembong teroris ini pada umumnya merekrut remaja yang masih labil pemikirannya untuk dijadikan martir. Remaja-remaja ini dicuci otaknya, diberikan janji-janji surga dan lain sebagainya, hingga mereka mau menyerahkan nyawanya hanya untuk melukai orang lain.

Maka dari itu para orangtua harus waspada pada tiga hal diatas. Orang tua sebagai penanggung jawab remaja harus bisa menjadi sahabat mereka. Menjadi orang yang lebih tinggi dari remaja hanya akan membawa remaja itu jauh daripada orang tua. Selain itu orangtua juga harus bisa menjadi panutan yang baik, sehingga anak remaja tidak mencari figur lain sebagai panutan. Selamat berjuang! (iwan)

Facebook Comments

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *